Selasa, 04 Februari 2014

Sukses itu, berasal dari Akal dan bukan dari perasaan



Hari tu, aku dan kawanku sedang memiliki kegiatan kecil yang mungkin juga biasa temen-temen lakukan. Kegiatan kami adalah menggoreng kerupuk udang, kerupuk Asli produk anak bangsa, yang sangat enak dan gurih setelah dimasak. Saat itu, kita berencana mengerjakan masak bareng. Namun ternyata, ada beberapa hal yang mengharuskan kawanku meninggalkan pekerjaan kita itu.
Aku mendapat tugas memasak kerupuk udang, sembari ia pergo sejenak untuk menyelesaikan urusannya. Ku lihat, wajan yang digunakan untuk memasak sudah bersih, namun masih ada sisa-sisa lemak yang menempel pada dinding wajan. Tanpa memperdulikannya, akupun melakukan tugasku dengan sebaik-baiknya, menyalakan kompor dam meletakkan wajan di atas kompor, menuangkan minyak, dan kerupuk yang akan ku goreng ku siapkan didekat tempat penggorengan.

Suara gemercik air pun terdengar dengan riuhnya, sampai minyak kelapa panas dan mengeluarkan sedikit asap. Aku kemudian memasukkan kerupuk udang itu satu persatu, dan ternyata hasilnya gosong. Mungkin itu arena aku terlalu lama menggoreng, namun tidak. Ternyata, minyaknya terlalu panas. Ku anggap, ini adalah efek dari minyak yang menempel pada wajan, sehingga dinding wajan sangat kuat dalam menyimpan panas. Sampai kerupuk ke sepuluh, ku membuat kesimpulan, ini adalah akibat dari wajannya yang kurang baik, sehingga hasilnya kurang baik. Kemudian ku matikan kompornya, dan melanjutkan menyiapkan sayur.
Waktu pu berlalu, kawanku datang. Dia bilang, “lho gus, kok gosong?” lalu aku menjawab “ini karena wajannya masih mengandung minyak mas, dindingnya”. Kemudian tanpa panjang lebar dia menyalakan kompor kembali, dan mencoba untuk memasak kerupuk udang tersebut. Minyak mulai memanas, kemudian kawanku memasukkan satu kerupuk, dan hasilnya dapat berwarna putih kekuningan. Lalu, dua menggoreng lagi untuk yang ke dua kalinya, dan berusaha untuk menggoreng untuk yang ke beberapa kalinya, dan hasilnya sama, sangat baik.
Dari dua hal ini, dengan keadaan dan komposisi yang sama, dalam waktu yang sama, namun dari sudut pandang dan pola pikir yang berbeda, anggapan yang berbeda, akan timbul hasil-hasil yang berbeda pula. Aku dan kawanku, ada bukan untuk saling menyaingi, buka untuk saling menjatuhkan, namun kami bersahabat karena untuk saling menopang dan mendukung. Milikilah teman yang dapat menjadi cerminan diri kita, supaya kita tahu, bahwa pemahaman kita tidak selalu dan tidak salamanya benar. Dalam setiap permasalahan apapun, yang menjadi kunci bukanlah permasalahan tersebut, namun yang menjadi kunci dan jawabannya adalah pola pikir kita.

Tidak ada komentar:

Ada kesalahan di dalam gadget ini